Lahat, IN – Pemerintah Kabupaten Lahat menunjukkan upaya dalam menekan angka kemiskinan pada 2026. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan yang bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Konsumsi dan Pengeluaran Maret 2026, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Lahat tercatat sebanyak 47,67 ribu jiwa atau sebesar 11,04 persen, dengan garis kemiskinan Rp 660.470 per kapita per bulan.
Bupati Lahat, Bursah Zarnubi, melalui Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Lahat, Feriyansyah Eka Putra., MM menyampaikan bahwa berbagai program pembangunan yang dijalankan pemerintah daerah diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memperkuat perekonomian berbasis potensi daerah.
Saat diwawancarai media ini, Feri halim menjelaskan bahwa upaya pengentasan kemiskinan tidak cukup hanya mengandalkan bantuan sosial, tetapi perlu didukung dengan program pemberdayaan ekonomi yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan. Senin (12/10/26)
Menurutnya, salah satu fokus pemerintah daerah adalah memperkuat sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan. Program tersebut dirancang secara menyeluruh, mulai dari penyediaan bibit, kebutuhan pakan, sarana produksi, hingga akses pasar bagi hasil usaha masyarakat.
“Program yang dijalankan tidak hanya memberikan bantuan, tetapi bagaimana masyarakat dapat mengembangkan usaha, meningkatkan produktivitas, dan memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan,” demikian inti penjelasan yang disampaikan Feri halim.
Ia menambahkan, Kabupaten Lahat memiliki potensi sumber daya alam dan lahan yang cukup luas serta didukung kondisi tanah yang potensial untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian dan perkebunan. Potensi tersebut dinilai perlu dioptimalkan agar masyarakat memiliki alternatif sumber penghasilan yang lebih kuat.
Di sisi lain, aktivitas pertambangan batu bara turut memberikan pengaruh terhadap pergerakan ekonomi daerah. Tingginya aktivitas ekonomi dan daya beli pada sejumlah wilayah dapat memengaruhi harga barang dan jasa, yang pada akhirnya berkaitan dengan besaran garis kemiskinan.
Berdasarkan data BPS, garis kemiskinan Kabupaten Lahat pada Maret 2026 tercatat sebesar Rp660.470 per kapita per bulan. Angka ini menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kondisi kesejahteraan masyarakat, sebab garis kemiskinan menggambarkan batas pengeluaran minimum yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan.
Feri Halim menilai, ketergantungan ekonomi terhadap sektor pertambangan perlu diimbangi dengan penguatan sektor-sektor produktif lainnya. Hal ini penting mengingat sumber daya alam seperti batu bara tidak dapat diperbarui dan aktivitas pertambangan memiliki keterbatasan dalam jangka panjang.
Karena itu, pengembangan pertanian, perikanan, perkebunan, serta usaha ekonomi masyarakat menjadi bagian penting dari strategi pembangunan Kabupaten Lahat ke depan.
Selain memperkuat sektor ekonomi, pemerintah daerah juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia agar masyarakat memiliki kemampuan untuk mengembangkan usaha dan memanfaatkan peluang ekonomi yang tersedia.
Sinergi antara pemerintah daerah, perangkat organisasi perangkat daerah (OPD), DPRD, serta berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat mempercepat pelaksanaan program-program yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
Upaya tersebut juga perlu ditopang oleh pembangunan sarana dan prasarana yang memadai, pembukaan akses pasar, serta pendampingan kepada masyarakat agar bantuan dan program pemerintah benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas dan pendapatan.
Penurunan angka kemiskinan, pada akhirnya, tidak hanya diukur dari berkurangnya jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, tetapi juga dari meningkatnya kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup, memperoleh pekerjaan, dan mengembangkan usaha secara mandiri.