Lahat, IN – Dalam upaya melestarikan Budaya leluhur nenek moyang yang berawal dari satu Desa menjadi 3 Desa (desa kebun jati, tanjung Raman dan Bintuhan) tradisi serta kearifan lokal, menjadi ciri khas suatu desa atau daerah tersebut, agar warisan turun-temurun ini tidak luntur dimakan zaman, terkikis oleh teknologi di era digital saat ini.
Untuk itulah Kementerian Kebudayaan Nasional melalui LPDP mengunjungi Desa Kebun Jati desa tertua dari desa tanjung Raman dan desa Bintuhan untuk menggali kisah Muji Benih guna dijadikan riset dasar literasi buku untuk diangkat menjadi Cerita Bergambar (Cergem).
Hal ini diungkapkan M, Khotibul Umam SP, Tim Kementrian Budaya, ketika melakukan Riset “Muji Benih” di Desa Kebun Jati Kecamatan Kota Agung Kabupaten Lahat pada Senin 6 April 2026, bertempat di Balai Desa, kegiatan ini dihadiri Kades Kebun Jati Supransyah, Jurai Tue (Pemangku Adat) Bukhari, beserta Perangkat Desa dan Anggota BPD.
Menurut M, Khotibul Umam SP, bahwa sudah selayaknya kita angkat kepermukaan selain tentang megalit sebagai upaya kepada generasi penerus untuk mendorong Literasi minat baca, nantinya kita akan kemas secantik mungkin seperti Cergam (cerita gambar) anak anak agar yang membacanya tidak mudah bosan.
Lanjutnya, sudah hampir 7 tahun tahun melakukan riset menggali berbagai potensi cerita rakyat, pada hari ini, yang kedua kalinya kita mendatangi desa Kebun Jati menggali lanjutan Asal usul Muji benih yang diceritakan oleh Jurai Tue (Pemangku adat) tersebut.
“Intisari yang dapat dipetik dari paparan Jurai Tue (Pemangku adat) yaitu Muji benih merupakan kepunyaan tiga desa yaitu Desa Kebun Jati, Desa Bintuhan dan Desa Tanjung Raman, tujuan muji benih menjalin hubungan tali silaturahmi, Silsilah keturunan, Muji benih, pusaka, tradisi adat,” tegasnya.
Sementara itu Kades Kebun Jati Supransyah menyambut positif dengan diangkatnya Cerita Asal Usul terjadinya Muji Benih bisa membawa nama Desa Kebun Jati diharapkan akan di kenal lebih luas lagi dengan tradisi adat istiadat di desa tersebut.
“Lebih dari sekadar ritual, Muji Benih merupakan simbol kuat persaudaraan, peneguh silsilah keturunan, serta bagian dari pusaka adat yang diwariskan turun-temurun, tradisi ini juga menjadi ruang mempererat silaturahmi antar warga.” ungkapnya.
Selain itu, yang membuatnya semakin istimewa, upacara adat Muji Benih hanya digelar setiap 10 tahun sekali secara bergilir di tiga desa tersebut.
“Sebuah siklus panjang yang menjadikannya sakral sekaligus dinanti dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami. Semoga tradisi ini tidak hanya lestari, tetapi juga dikenal hingga luar daerah,” harapnya.