Oleh M.Yasin
Di tengah menjamurnya organisasi massa dan organisasi kepemudaan di Indonesia saat ini, ada sebuah organisasi yang cukup tua yaitu Pemuda Pancasila. Organisasi pemuda Pancasila memiliki sejarah panjang dalam perjalanan kehidupan kebangsaan Indonesia. Enam puluh tujuh tahun perjalanan lintas generasi, melewati pergantian kekuasaan, perubahan sistem politik, dinamika sosial, dan transformasi kehidupan masyarakat.
Pada 28 Oktober 2026, Pemuda Pancasila memperingati hari jadinya yang ke-67. Momentum ini tidak semestinya hanya dirayakan dengan upacara, konvoi, seragam kebesaran, atau kemeriahan seremonial. Lebih dari itu, hari ulang tahun merupakan kesempatan untuk menengok kembali sejarah, mengevaluasi perjalanan organisasi, serta mempertanyakan kontribusi nyata yang telah diberikan kepada bangsa dan negara.
Sebab, organisasi yang besar bukan semata-mata diukur dari jumlah anggotanya, luas jaringannya, atau kekuatan simbol-simbolnya. Kebesaran organisasi juga ditentukan oleh manfaat yang dirasakan masyarakat dan keteguhan para anggotanya dalam memegang nilai-nilai perjuangan.
Dari Pergolakan Sejarah Menuju Oganisasi Kemasyarakatan
Organisasi Pemuda Pancasila bukanlah pasukan nasi bungkus, atau pasukan penjaga hajatan sebagaimana sering perolok-olok oleh Netizen Indonesia. Pemuda Pancasila lahir ketika Indonesia menghadapi pergolakan politik dan perdebatan ideologis di masa pemerintahan Presiden Ir. Sukarno. Awalnya Organisasi paramiliter ini diberi nama “Pemuda Patriot” Ia lahir sebagai sayap pemuda IKATAN PENDUKUNG KEMERDEKAAN INDONESIA (IPKI) yang didirikan oleh JENDERAL ABDUL HARIS NASUTION, JENDERAL AHMAD YANI dan JENDERAL GATOT SUBROTO dengan tujuan menangkal pengaruh PKI dan membawa semangat mempertahankan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Latar belakang sejarah itu penting dipahami agar generasi sekarang tidak melihat Pemuda Pancasila hanya sebagai organisasi dengan identitas, atribut, dan struktur kepengurusan. Di balik nama yang disandangnya, terdapat tanggung jawab ideologis yang harus terus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.
Namun, sejarah juga harus dibaca secara jujur dan menyeluruh. Perjalanan organisasi dalam pusaran konflik politik masa lalu memperlihatkan bahwa perjuangan ideologi tidak selalu berlangsung dalam suasana yang damai. Karena itu, pelajaran terpenting dari sejarah bukanlah memelihara permusuhan antarkelompok, melainkan memastikan bahwa perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk mengorbankan persatuan dan kemanusiaan.
Pancasila harus menjadi dasar untuk membangun kehidupan bersama, bukan pembenaran untuk merendahkan pihak lain.
Enam Puluh Tujuh Tahun: antara kebanggaan dan tanggung jawab
Memasuki usia ke-67, Pemuda Pancasila memiliki modal sejarah dan pengalaman organisasi yang panjang. Akan tetapi, usia yang panjang tidak otomatis menjamin bahwa setiap langkah organisasi selalu sesuai dengan cita-cita awalnya.
Setiap organisasi kemasyarakatan pasti menghadapi tantangan. Perubahan sosial menuntut kemampuan beradaptasi, sementara perkembangan demokrasi menuntut keterbukaan, kedewasaan, dan penghormatan terhadap hukum.
Dalam konteks inilah, Pemuda Pancasila perlu menempatkan ulang tahun ke-67 sebagai momentum refleksi. Kebanggaan terhadap masa lalu harus berjalan beriringan dengan keberanian mengevaluasi masa kini.
Nama besar organisasi hendaknya tidak berhenti sebagai kebanggaan kolektif. Nama besar itu harus menjadi beban moral yang mendorong setiap kader untuk menunjukkan kualitas pengabdian yang lebih baik.
Masyarakat membutuhkan organisasi yang hadir ketika warga mengalami kesulitan, ketika persoalan sosial membutuhkan kepedulian, ketika masyarakat membutuh keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.